Aksisepuluhjari’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Mahzab Hari Ini

Artikel ini sebenernya ngambil dari kolom Ustadz Menjawab-nya Ust. H. Ahmad Sarwat Lc. di Eramuslim. Ini juga ditujukan bagi saudara-saudara Muslim yang masih bingung mengenai masalah mahzab.

Berikut kutipannya:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Ustadz, banyak yang sering menyebutkan bahwa umat Islam di Asia Tenggara menganut Mazhab Syafi’i. Orang-orang di sekitar saya juga sering mengatakan kita bermazhab Syafi’i dari empat mazhab yang ada.

Yang menjadi tanda tanya bagi saya, apa yang dimaksud dengan Mazhab? Apa perlu kita bermazhab? Padahal pada masa Rasulullah. SAW dan Sahabat Beliau tidak pernah menyinggung hal ini.

Terima kasih atas tanggapan Ustadz sebelumnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wahdan Hidayat
wahhid

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mazhab fiqih bukanlah sekte atau pecahan kelompok dalam agama. Mazhab fiqih adalah metologi yang sangat diperlukan dalam memahami nash-nash agama.

Mengatakan kembali kepada Quran dan Sunnah memang mudah, tetapi dalam kenyataannya, ada banyak masalah yang muncul dan tidak terpikirkan sebelumnya. Dan ujung-ujungnya, tiap orang akan berimprofisasi sendiri-sendiri dalam berpegang kepada Quran dan Sunnah, bahkan variannya akan menjadi sangat banyak tidak terhingga.

Munculnya aliran sesat semacam Islam Jamaah, Ahmadiyah, serta kelompok nyeleneh lainnya adalah akibat dari tidak adanya sistem istimbath hukum yang baku dalam menarik kesimpulan hukum yang benar dari Quran dan sunnah.

Semua jamaah sesat selalu mengklaim bahwa mereka merujuk kepada Quran dan sunnah. Untuk itu dibutuhkan rule of the game dalam menggunakan Quran dan sunnah, agar hasilnya tidak bertentangan dengan esensi keduanya.

Mazhab Fiqih Adalah Sebuah Upaya Memudahkan

Kita mengenal Al-Quran dengan 6000-an ayatnya, serta mengenal jutaan hadits nabawi. Tentunya, tidak semua orang mampu membaca semuanya, apalagi sampai menarik kesimpulan hukumnya.

Apalagi mengingat bahwa Al-Quran tidak diturunkan dalam format kitab undang-undang atau peraturan. Al-Quran berbentuk prosa yang enak dibaca sebagai bentuk sastra. Tentunya, menelusuri 6000-an ayat untuk dipetakan menjadi sebuah kitab undang-undang yang rinci dan spesifik membutuhkan sebuah kerja berat.

Maka para ulama pendiri mazhab itulah yang berperan untuk menyelesaikan proyek maha raksasa itu. Satu demi satu ayat Quran dibaca, ditelaah, diteliti, dikaji, dibandingkan dengan ayat lainnya, lalu dicoba untuk ditarik kesimpulan hukum yang terkandung di dalamnya.

Sedangkan hadits nabawi yang berjumlah jutaan itu, lebih repot lagi menanganinya. Sebab sebelum ditarik kesimpulan hukumnya, hadits-hadits itu masih harus mengalami proses validisasi terlebih dahulu, serta ditetapkan status derajat keshahihannya.

Hasil dari penelusuran panjang baik dari ayat Quran maupun jutaan butir hadits itu kemudian ditulis dengan susunan yang mudah, dengan bahasa yang lebih teknis dan komunikatif oleh para ulama mazhab itu. Dengan mengikuti sebuah pola tertentu yang sudah distandarisasi sebelumnya secara ilmiyah. Ada puluhan bahan ratusan ulama ahli dan ekspert di bidangnya yang bekerja 24 jam sehari untuk melakukan proses ini sepanjang zaman. Sehingga menghasilkan kesimpulan dan rincian hukum yang sangat detail dan bisa menjawab semua masalah syariah sepanjang zaman.

Produknya telah berjasa besar sepanjang perjalanan hidup umat Islam sejak abad kedua hingga abad 15 hijriyah ini.

Dan semua itu kita sebut mazhab fiqih!!!

Kalau ada orang yang dengan lugunya mengatakan mengapa harus menggunakan mazhab dan tidak langsung saja mengacu kepada quran dan sunnah, jelaslah bahwa orang ini tidak tahu persoalan.

Dan ketika orang ini nantinya mengambil kesimpulan hukum sendiri langsung dari Quran dan sunnah, tanpa sadar dia sedang mendirikan sebuah mazhab baru, yaitu mazhab dirinya sendiri. Dan begitulah, setiap kali ada orang membaca Al-Quran atau sunnah sebagai sumber hukum, maka apa yang disimpulkannya adalah mazhab. Mazhab itu bisa saja mazhabbaru, karena belum ada orang yang memahami dengan cra demikian sebelumnya, atau bisa juga mazhab lama, karena sebelumnya sudah ada yang menyimpulkan seperti kesimpulannya.

Mengapa Ada Banyak Mazhab?

Banyaknya mazhab itu tidak ada kaitannya dengan perpecahan, apalagi permusuhan di dalam tubuh umat Islam. Sebaliknya, banyaknya mazhan dan pendapat itu justru menunjukkan sangat dinamisnya syariat Islam, serta sangat luasnya wilayah ijithad.

Semakin banyak mazhab justru kita semakin bangga, bukan semakin sedih. Sebab mazhab itu tidak seperti sekte atau pecahan-pecahan yang saling bermusuhan. Adanya mazhab-mazhab itu menunjukkan kecanggihan dan keistimewaan syariah Islam.

Kita bisa ibaratkan sebuah organisasi, semakin banyak departemen dan bidang-bidangnya, menunjukkan semakin banyak besar dan semakin luas jangkauan organisasi itu. Dan tentunya semakin profesional.

Latar Belakang Perbedaan

Ada banyak latar belakang perbedaan pendapat yang menyebabkan banyaknya versi kesimpulan hukum, di antaranya adalah:

  1. Adanya nash-nash yang secara zahir saling bertentangan, baik antara Quran dengan Quran, atau antara Quran dengan hadits, atau antara hadits dengan hadits.
  2. Adanya celah penafsiran dan kesimpulan hukum yang berbeda di dalam satu dalil yang sama
  3. Adanya perbedaan status dan derajat keshaihan suatu hadits, sehingga sebagian ulama menerima suatu hadits karena menurutnya shahih bisa dijadikan dalil, namun sebagian lainnya menolak keshahihan hadits itu dan tidak mau menjadikannya sebagai dalil.
  4. Adanya metode istimbath hukum yang berbeda antara satu ulama dengan lainnya. Prakek penduduk Madinah (amalu ahlil Madinah) adalah metode atau sumber hukum yang diterima oleh Imam Malik, namun ulama lain tidak mau menggunakan metode ini.
  5. Adanya perbedaan dalam penggunaan istilah-isitlah fiqih di antara masing-masing mazhab. Sehingga meski sekilas kelihatannya salin berbeda, namun boleh jadi esensinya justru sama dan sejalan.
  6. Adanya ‘urf dan kebiasaan masyarakat yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Hal ini mengingat bahwa kesimpulan hukum itu seringkali terkait dengan realitas sosial yang berkembang pada suatu masyarakat tertentu.

Dan masih banyak lagi penyebab perbedaan pandangan di kalangan ulama. Hal seperti ini tidak bisa dihindarkan, bahkan sudah terjadi semenjak nabi SAW masih hidup. Bahkan nabi SAW sendiri pernah berbeda pendapat dengan para shahabat dalam hasil ijtihadnya, dan justru ijtihad shahabatnya yang dibenarkan Allah SWT.

Maka kesimpulan dari jawaban ini adalah bahwa bermazhab itu adalah bentuk paling benar dari slogan kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan bahwa berbeda pandangan yang terjadi di dalam masing-masing mazhab itu adalah sebuah keniscayaan yang mustahil dihindari. Namun perbedaan itu haram untuk dijadikan dasar perpecahan dan permusuhan, sebaliknya harus menjadi sebuah khazanah kekayaan syariah Islam yang luas dan luwes.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Mei 26, 2008 Ditulis oleh aksisepuluhjari | Uncategorized | , | 1 Komentar

Terimakasih Duhai Pemerintah

Selamat. Mulai hari ini kita semua rakyat Indonesia telah diberi kesempatan untuk merasakan beratnya nikmatnya harga jual Bahan Bakar Minyak yang baru. Sekali selamat. Dan tak lupa saya juga ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dengan segala usaha dan jerih payahnya menganggap saya dan jutaan rakyat Indonesia sebagai golongan yang mampu.

Mei 24, 2008 Ditulis oleh aksisepuluhjari | Uncategorized | | No Comments Yet

Pidato Kebangkitan

Beriku ini pidato Presiden Republik Indonesia di Perayaan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 100:

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA PERINGATAN
100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL TAHUN 2008

Jakarta, 20 Mei 2008

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, yang saya cintai dan saya banggakan.

Hari ini, alhamdulillah, kita semua dapat merayakan hari yang sangat istimewa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia : 100 Tahun Kebangkitan Nasional !

Hari ini, dengan hati yang bersih dan jiwa yang terang, kita semua berdiri tegak sebagai warga negara Republik Indonesia, sebagai bangsa ke-empat terbesar di dunia, sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia, sebagai negara demokrasi ketiga terbesar dunia, dan sebagai negara dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Karena itulah, pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menyampaikan rasa hormat, terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pendiri dan pejuang bangsa, yang telah mengantarkan kita semua ke tingkat kehidupan bangsa yang semakin maju dewasa ini.

Di awal abad ke-20, para pendiri dan pejuang bangsa menemukan gagasan politik baru yang belum pernah digali sebelumnya, yaitu nasionalisme !

Mereka menyalakan dan menyebarkan api itu, dan kemudian mengobarkannya dalam satu revolusi kemerdekaan yang paling gemilang di abad ke-20, yang kemudian melahirkan Republik Indonesia Merdeka.

Berkat perjuangan dan pengorbanan mereka, hari ini kita dapat bersatu dalam tekad dan semangat kebangsaan Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke, dari Miangas sampai ke Pulau Rote. “Indonesia” yang 100 tahun lalu hanya mimpi, hanya aspirasi, hanya konsep, kini telah menjadi kenyataan, menjadi jati diri kita, menjadi negara besar yang kita cintai bersama. Dan kita semua bertekad, memasuki abad ke-21 ini, Indonesia dapat benar-benar menjadi bangsa yang maju, yang kuat, dan yang unggul.

Saudara-saudara,
Kita sering dihantui kegamangan, keraguan dan ketidakpercayaan diri, dalam menjalani kehidupan bangsa yang semakin banyak tantangan, dan dalam perkembangan dunia yang semakin kompleks.

Kita bertanya, apakah perjalanan bangsa ini telah berada pada arah yang benar ? Perjalanan besar kita dari tahun 1908, tahun 1945, tahun 2008 ini, dan tahun-tahun mendatang.

Kita bertanya, apakah bangsa kita bisa menjadi Negara Maju (develop nation) pada abad 21 ini ? Menjadi bangsa yang terhormat, dan tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain.

Kita juga bertanya, ketika sekarang ini bangsa kita sedang kembali diuji oleh krisis energi dan krisis pangan dunia, apakah kita bisa menghadapi dan mengatasinya?

Terhadap ketiga pertanyaan itu, jawabannya adalah :
Perjalanan bangsa kita telah berada pada arah yang benar, Indonesia bisa menjadi negara maju di abad-21, dan krisis energi serta pangan dunia ini akan bisa kita atasi.

Mengapa ? Karena sejak 100 tahun yang lalu, sejak bangsa kita bangkit, kita telah menjadi bangsa yang berkemampuan, ”Bangsa Yang Bisa” ! Bisa mengubah nasib, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan, dan bisa mengatasi berbagai tantangan sejarah !

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Bangsa kita mulai bangkit pada tanggal 20 Mei 1908, ketika organisasi Boedi Oetomo didirikan di kampus STOVIA Jakarta. Boedi Utomo merupakan suatu inovasi politik yang baru. Untuk pertama kalinya, timbul di bumi Nusantara suatu organisasi modern, dengan cara pandang yang baru dan beda.

Kelahiran Boedi Oetomo telah menjadi tonggak yang menumbuhkan semangat perjuangan, sekaligus menjadi inspirasi bagi berdirinya berbagai organisasi di seluruh pelosok tanah air, baik yang bersifat kedaerahan, politik, serikat pekerja, keagamaan, kewanitaan, maupun kepemu-daan.

Pada gelombang berikutnya, muncul sejumlah organisasi seperti Sarekat islam, dan berbagai organisasi lainnya

Hal ini mewarnai awal kebangkitan nasional, dan mencapai puncaknya pada tahun 1928, dengan bersatunya berbagai kelompok organisasi—khususnya organisasi kepemudaan—untuk mewujudkan suatu gerakan kebang-saan yang sejati, melalui Sumpah Pemuda : satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa – Indonesia!

Gerakan kaum muda tahun 1908 dan tahun 1928, menandai tonggak-tonggak awal gerakan kebangkitan nasional Indonesia. Sejak itu, nasionalisme Indonesia terus berkembang, terus menjalar, dan terus berkobar di seluruh penjuru tanah air.

Dengan semangat nasionalisme itulah, kita berhasil meraih kemerdekaan yang kita cita-citakan, pada tanggal 17 Agustus 1945. Selanjutnya, kitapun berhasil memper-tahankan kemerdekaan itu dengan darah, keringat dan air mata.

Kita juga berhasil menjaga keutuhan negara, dari berbagai ancaman separatisme.

Kita berhasil mempersatukan kembali Irian Barat.

Kita berhasil menyelamatkan ideologi Negara Pancasila.

Kita berhasil keluar dari krisis moneter yang sangat berat, yang melahirkan era “reformasi”.

Kita berhasil, dengan penuh perjuangan, membangun dan menghadirkan demokrasi, yang mengedepankan kedaulatan rakyat.

Kita berhasil menangani dampak bencana tsunami yang maha dahsyat, dan bahkan kemudian menciptakan perdamaian Aceh yang telah bergolak selama lebih dari 30 tahun.

Saudara-saudara,
Mengapa kita dapat terus berdiri tegak, dan mengapa kita mampu menghadapi semua cobaan dan tantangan itu ? Mengapa kita mampu melampaui masa-masa berat itu, sementara banyak bangsa di dunia yang terpecah belah, atau runtuh, atau menjadi negara yang gagal (failed state), karena tidak mampu menahan berbagai badai perubahan jaman yang datang silih berganti ?

Bangsa Indonesia dapat berdiri tegak karena, pertama, kita mempunyai semangat perjuangan yang tinggi. Kita tidak pernah mengenal menyerah, apakah itu melawan penjajahan, melawan ketidak-adilan, melawan kemiskinan dan kebodohan, serta menghadapi berbagai bencana alam.

Kedua, kita dapat berdiri tegak, karena kita mampu bersatu sebagai bangsa, sebagai saudara senasib dan sepenanggungan. Dari tahun 1928 sampai tahun 2008, bangsa kita selalu satu ! Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Dan, ketiga, kita tetap berdiri tegak karena kita selalu mampu beradaptasi di tengah arus perubahan. Setiap generasi, apakah itu generasi 1908, generasi 1928, generasi 1945, generasi 1966, generasi 1998, masing-masing mampu membaca tanda-tanda zaman, dan mampu mengikuti angin sejarah untuk kebaikan negara dan bangsa tercinta.

Karena itulah kita bersyukur, karena perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional hari ini, sejatinya merupakan momentum yang mengikat anak bangsa Indonesia yang lahir di tiga abad yang berbeda: abad ke-19, abad ke-20 dan awal abad ke-21, yang terus berjuang untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

Karakter dan kualitas inilah yang menjadi modal utama kita, untuk melanjutkan tahapan perjuangan bangsa kita di awal Abad ke-21 : melangkah ke depan, menuju negara maju !

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Tantangan yang kita hadapi untuk mencapai tujuan mulia ini, memang lebih berat dan lebih kompleks dari tantangan yang kita hadapi di masa lalu.

Oleh karena itu, untuk menjadi bangsa yang berhasil, ada tiga syarat fundamental yang harus kita bangun dan miliki, yaitu:

Pertama, kita harus menjaga dan memperkuat kemandirian kita, karena kemandirian adalah dasar dari kekuatan, ketahanan dan kemampuan kita untuk terus maju sebagai bangsa. Kita tidak boleh memiliki ketergantungan yang tinggi, terlebih secara absolut kepada bangsa lain, kepada negara lain, kepada pihak lain, kepada dunia. Kita ingin, makin ke depan, dengan sumber daya yang kita miliki, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, infrastruktur, teknologi, pengalaman membangun, warisan sejarah dan berbagai potensi yang ada lainnya, kemandirian kita sebagai bangsa dapat terus kita tingkatkan. Kita harus bisa menjadi bangsa yang dapat menyediakan sendiri, sebagian besar kebutuhan dasarnya. Bangsa yang tidak terjerat dalam hutang yang memberikan beban yang berat. Bangsa yang tidak didikte, baik secara politik, ekonomi, maupun militer oleh negara manapun. Dan bangsa yang memiliki kebebasan dan kemandirian dalam menjalin kerjasama internasional yang adil dan konstruktif.

Kedua, kita juga harus memiliki daya saing yang makin tinggi. Dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan dan tantangan ini, meskipun sesungguhnya juga membuka peluang dan kerjasama, bangsa yang menang dan unggul adalah bangsa yang produktif dan inovatif, mengua-sai ilmu pengetahuan dan teknologi, cerdas mengambil peluang, serta berani menghadapi perubahan.

Persyaratan fundamental yang ketiga adalah, kita harus mampu membangun dan memiliki peradaban bangsa (civilization) yang mulia. Itulah sebabnya, kita perlu terus mempertahankan nilai, jati diri dan karakter bangsa kita yang luhur dan terhormat. Kita perlu terus meningkatkan semangat dan ethos kerja sebagai bangsa yang kuat dan gigih, dan bukan bangsa yang lemah dan mudah menyerah. Kita terus membangun peradaban yang menghadirkan persaudaraan dan kerukunan bangsa, serta peradaban yang memperkuat tanggung jawab untuk memelihara kelestarian alam. Dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, kita dituntut untuk selalu mengedepankan cara-cara yang damai, beradab dan demokratis, bukan dengan cara-cara kekerasan dan mengabaikan pranata sosial dan pranata hukum. Kita harus menjaga ke-Indonesia-an kita, kebangsaan kita, dalam dunia yang semakin tidak menentu, semakin gaduh, semakin panas, dan semakin penuh sesak.

Dengan tiga kekuatan utama ini – kemandirian, daya saing dan peradaban bangsa yang tinggi – saya yakin Indonesia akan mampu menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, betapapun beratnya, apapun bentuknya dan dari manapun datangnya. Dan dengan tiga kekuatan ini pula, kelak kita akan menjadi negara yang maju dan unggul.

Saudara-saudara,
Dewasa ini, bangsa kita tengah menghadapi tantangan yang berat, yang semuanya berasal dari luar. Dunia kini dihantui oleh krisis pangan, krisis energi, dan ancaman resesi ekonomi.

Semua ini, suka atau tidak suka, akan berdampak bagi Indonesia, karena kita adalah bagian dari sistem perekonomian dunia. Kitapun telah sama-sama merasakan persoalan yang berat ini. Namun saya yakin, kita dapat mengatasinya, jika kita terus berikhtiar mencari solusi, selalu tabah, dan tetap bersatu.

Untuk itulah, menghadapi krisis energi dan pangan dunia ini, mulai sekarang dan ke depan, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, untuk terus meningkatkan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan ekonomi kita.

Ke depan, apapun tantangannya, kita harus terus mempertahankan dan memperkuat tiga kekuatan bangsa tersebut : kemandirian, daya saing, dan peradaban bangsa. Insya Allah, dengan terus meningkatkan ketiga kekuatan bangsa itu, kita akan dapat melangkah maju, menuju Indonesia yang aman, damai, adil, demokratis dan sejahtera.

Kita semua tahu, bahwa bangsa-bangsa besar di dunia selalu mau dan mampu secara sungguh-sungguh belajar dari sejarah masa lampaunya. Saya sungguh yakin, bahwa bagi bangsa yang besar, semakin jauh ia menempuh perjalanan sejarah, semakin dekat bangsa itu pada visi dan cita-citanya. Hari ini, 20 Mei 2008, 100 tahun setelah bangsa Indonesia bangkit, dan setelah berjuang satu abad lamanya, kita semua patut bersyukur, kita dapat mewujudkan banyak capaian dan kemajuan, yang makin mendekatkan kita pada cita-cita para pendiri bangsa.

Oleh karena itu, tepat kiranya jika tema besar yang diusung dalam peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini adalah; “Indonesia Bisa”.

Sebagai bangsa yang besar, kita harus optimis menatap masa depan, karena kita hidup dalam abad ke-21 yang penuh dengan segala kemungkinan dan peluang. Bangsa kita memiliki kemampuan dan bisa mengubah nasib dan masa depan kita, serta bisa menjadi negara maju, unggul dan sejahtera. Oleh karena itu, saya mengajak saudara-saudara, marilah kita terus berjuang bersama, melangkah bersama, dan bekerja keras bersama, untuk meraih masa depan Indonesia yang gemilang.

Marilah kita lanjutkan reformasi, untuk terus mengem-bangkan demokrasi, menegakkan hukum, membangun sistem yang bersih, menggiatkan pembangunan daerah, dan meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Kepada masyarakat dunia, saya juga menyerukan dan mengajak untuk bersama-sama mewujudkan tatanan dunia yang lebih damai, lebih adil, dan benar-benar membawa kemakmuran bagi semua bangsa, dan bukan hanya bagi segelintir bangsa. Keadilan sejati pada tingkat dunia harus dapat kita wujudkan.

Akhirnya, marilah kita berdoa ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga bangsa dan negara kita senantiasa diberikan kekuatan dan semangat juang yang tinggi, untuk tetap kukuh sebagai bangsa, dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sekian. Majulah Indonesia !

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 20 Mei 2008
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Mei 24, 2008 Ditulis oleh aksisepuluhjari | Uncategorized | , | 1 Komentar

Stress Release

Apa yang lo lakuin kalo kepala lo lagi berat banget karena beban-beban pikiran yang bertengger disana? Kalo gw, gw akan memilih untuk pergi keliling kota. Kadang naek motor dan belakangan ini juga sering naek bus transjogja.

Gw bukan tipe orang yang suka berbagi beban. Tapi jeleknya, sendiri pun kadang gw ga bisa menyelesaikan masalah yang gw alami. Gw kadang cuma lari aja dari masalah itu tanpa pernah menyelesaikannya. Sungguh kekanak-kanakan.

Tapi gw udah berusaha banget ninggalin kebiasaan buruk itu. Gw belajar bahwa hidup tuh adalah serangkaian ujian untuk menyelesaikan masalah. Dan justru kenikmatan hidup tuh baru akan terasa kalo kita berani nyelesain masalah yang kita hadapi. Apa pun hasilnya. Karena setelah itu kita akan ngerasa lega. Dan paling enggak kita dapet pelajaran untuk dijadikan bekal masa depan.

Tapi yang ga berubah adalah, gw tetap menjadi orang yang sulit untuk berbagi masalah. Gw susah banget percaya sama orang. Bukan tanpa alasan sebenernya. Karena berdasarkan pengalaman gw, berbagi masalah gw dengan orang lain cenderung akan memperumit masalah. Karena yang sering gw dapet justru penghakiman. Gw ga butuh itu. Yang gw butuh adalah solusi. Atau paling tidak ya dukungan juga udah cukup bagi gw.

Alasan itu juga yang bikin gw akhir-akhir ini jarang banget dateng ke kajian terutama yang diadain di kampus. Gw jarang dapet solusi disana. Yang ada hanyalah penghakiman dan justru malah terkadang penambahan beban. Mungkin itu cocok bagi yang lain, tapi gw nggak ngerasa nyaman aja.

Gw lebih seneng pergi ke suau tempat sendiri ajah. Trus disana baru gw bisa mikir tentang solusi dari masala yang gw hadapi.

Kalo ada masalah, biasanya gw pergi jauh dari rumah. Biasanya gw pergi cari masjid yang jauh dari rumah. Jauh sampe ga ada orang yang gw kenal. Disana gw bisa tenang. Gw bisa lama-lama di masjid buat mikir.

Beberapa kali kao ada masalah, gw lari ke masjid Syuhada. Syuhada emang ga terlalu jah sama rumah, tapi paling enggak, disini jarang ada orang yang gw kenal. Sehingga gw bisa sendiri tanpa perlu terjebak dalam siuasi yang penuh basa-basi.

Gw suka banget nongkrong di balkon Syuhada sambil liati rumah-rumah di depannya. Sambil ngeliati ana-anak maen layangan. Sambil ngeliatin ada rumah yang lampunya lagi rusak. Sambil denger suara kereta. Ahhh sungguh menyenangkan dan menenangkan. Dengan melihat pemandangan itu terkadang gw jadi mikir, bahwa ternyata di luar sana ada jutaan orang dengan milyaran permasalahan. Masalah yang gw hadapi mungkin ga akan seberapa kalo di bandingin sama masalah penghuni salah satu rumah disana yang mungkin aja udah3 bulan di PHK dan anaknya udah lama ga bayar SPP dan belum lai masih harus bayar ongkos rumah sakit karena mertuanya kena TBC.

Sungguh nampak kecil masalah gw.

Itulah kenapa gw suka keliling kota untuk menenangkan pikiran. Biar gw jadi orang yang bersyukur. Di luar sana masih banyak orang yang mengalami masalah yang lebih pelik daripada yang gw alami.

Orang mungkin bilang kalo kegiatan gw itu ga jelas. Sia-sia. Persetan dengan mereka. Gw ngerasa banyak manfaat yang bisa gw ambil. Selain bisa menenangkan pikiran, gw juga bisa belajar berempati. Melihat masalah yang dialami rakyat dari dekat. Bukan hanya dari televisi. Bukan hanya ketika Pemilu sudah semakin rapat.

Mei 16, 2008 Ditulis oleh aksisepuluhjari | Uncategorized | , | No Comments Yet

Buying Back Memories (part 2)

Seperti udah gw ceritain di postingan sebelumnya, karena macetnya jalanan menuju sekolah gw. Gw harus berangkat pagi2 dari rumah gw di Cimanggis. Tapi waktu keberangkatan yang pagi subuh itu tidak menutup kesempatan gw untuk mendapatkan hiburan. Di pagi yang biasanya sangat rush itu, gw ga sempet nonton TV. Nonton TV terlalu menyita waktu. Jadi, kebiasaan gw ketika bersiap-siap mo berangkat adalah mendengarkan radio. Karena ke-cupu-an gw, stasiun radio yang gw tau sangatlah terbatas. Andalan gw ya Prambors. Sebenernya masih ada lagi sih, radio 91.1. Tapi radio ini isinya orang ilang terus. Radio polisi soalnya.

Ya, waktu gw dengerin radio di pagi hari sebenernya ga terlalu banyak, paling Cuma sekitar setengah jam-an. Kalo dianter bokap ke sekolah, gw punya waktu lebih lama lagi. Tapi waktu SMA, gw dianter bokap Cuma seminggu sekali. Hari Sabtu doang.

Ya, intinya gw denegrin radio kalo pagi Cuma sekitar setengah jam. Tapi dari setengah jam itu ada sesuatu yang gw dapet. Gw sedikit banyak rada hafal sama lagu2 Top 40-nya Prambors. Nah dari situ terbentuklah lagu2 masa SMA gw. Sedikit ada yang akhrinya gw beli albumnya kayak Saybia, Finch, Sondre Larche atau Mew. Tapi sisanya ga bisa kebeli. Ada yang karena emang albumnya ga dirilis di Indonesia tapi kebanyakan karena kemampuan financial gw yang terbatas. Jaman itu juga mp3 masih mahal walaupun kao dibandingin sama kaset sih masih lebih murah mp3.

Akhrinya gw mulai perburuan gw terhadap lagu SMA gw pas sekarang ini. Dimasa-masa akhir kuliah gw. Semua ini ga lepas dari peran Mbah Google dan Pakde Youtube. Jasa Youtube dalam hal ini sangatlah besar.

Sedikit membahas masalah Youtube. Youtube adalah sebuah situs dimana lo bisa aplot ato donlot video yang lo mau. Situs ini sempet diblokir pemerintah Indonesia terkait dengan pemuatan film Fitna buatan orang Belanda gila bernama Gert Wilders. Sebuah film controversial yang cemen banget.

Terlepas dari itu, sebenernya Youtube sangat berguna bagi kegiatan belajar mengajar. Karena Youtube banyak memiliki kleksi video2 tutorial. Kesuksesan Youtube segera menyebar ke seluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dengan maraknya website sejenis. Di Indonesia saja ada beberapa website yang juga menawarkan konsep video sharing seperti layaknya Youtube. Salah satu diantaranya adlah Layartancap.com.

Gw make google untuk terutama untuk lagu yang gw ga inget baik judul maupun penyanyinya. Yang bisa gw inget Cuma bebrapa bagian dari liriknya. Jadi, gw ketik dulu beberapa bagian di liriknya trus gw search via google. Baru setelah dapet judul n penyanyinya, gw donlot di Youtube. Beberapa lagu yang gw berhasil dapatkan dengan cara ini adalah Somewhere My Baby Waits For Me-nya Lisa Stansfield sama One With The Freak-nya Notwist. Menyenangkan banget memang. Dengan ini sih harapan gw, kayak apa yang dibilang sama Collective Soul, gw bisa buying back memories to awaken some old qualities.

Mei 16, 2008 Ditulis oleh aksisepuluhjari | Uncategorized | , , | 1 Komentar

Buying back memories (part1)

Is there a cure among us
From this processed sanity
I weaken with each voice that sings
In this world of purchase
I’m going to buy back memories
To awaken some old qualities
Have I got a long way to run

(Run by Collective Soul)

Kalo gw ditanya kapan masa2 paling menyenangkan dalam hidup gw, sekarang ini gw mungkin akan menjawab, masa menyenangkan dalam hidup gw ada sewaktu gw masih kecil sampe sekitar usia TK dan masa menyenangkan kedua adalah ketika gw SMA.

Apa sih yang ga menyenangkan dari masa kecil? Man, lo gak perlu mikir apapun. You could say whatever you wanted to say. You could do every single thing that you wanted to do. Ga ada yang perlu dipikirin. Ga ada yang perlu dikhawatirin. Gw rindu masa itu. Gw rindu masa2 dimana gw ga harus repot ngerjain tugas kuliah ato sekolah. Masa dimana semua orang akan melihat segala tindakan lo adalah benar. Tindakan lo adalah sebuah hal yang lucu bagi orang2 di sekitar lo sehingga senakal apapun lo, orang2 di sekitar lo ga bakal tega buat marahin lo. Oh menyenangkan!!

Lo bayangin ajah, dulu waktu kita kecil kalo kita nimpuk orang lain, orang itu paling akan senyum2 sama lo. Coba sekarang lo nimpuk orang. Hhmmm sukur2 deh kalo lo ga benjol.

Hhhmmmm.

Okay, let’s move on.

Selanjutnya adalah masa2 SMA. Masa abu-abu. Hhmmmm gw rindu bau SMA. Masa SMA gw……. Ahhhh can’t find a word to explain that mate!!! Pernah seorang temen yang tau kalo waktu SMA gw ancur nanya, “Kalo lo bisa balik lagi ke masa SMA, apa yang mo lo ubah?” gw jawab: “Ga ada!!”. Yang gw alami adalah masa yang indah. Dan ga ada secuil pun dari itu yang pengen gw ubah. Gw juga ga menyesali kesalahan-kesalahan bodoh yang gw lakukan di masa itu.

Gw masuk di SMA dimana di SMA itu nyokap gw bekerja sebagai guru BP. Yah, suatu fakta yang ga pernah bisa mencegah fakta lain bahwa selama gw sekolah disana gw harus tiga kali berurusan dengan BP.

Maksud nyokap bokap gw nyekolahin gw ke SMA adalah agar anaknya mendapat ilmu. Itu bener. Tapi itu ga menutup kenyataan bahwa faktanya pengetahuan yang gw dapat jauh melebihi ilmu yang gw serap. Ga usah gw jelasin. Tau kan bedanya ilmu dan pengetahuan?

Masa SMA menyuguhkan pengetahuan berlimpah sampe gw kadang ga bisa mikir lagi mana yang harus gw telan atau muntahkan. Terlalu banyak hal yang gak diajarkan oleh guru di dalam kelas yang justru merupakan hal yang sangat penting dalam hidup kita.

Masa SMA mengajarkan lo bagaimana bertoleransi lebih riil dari pada yang diajarkan di pelajaran PPKn. Mengajarkan bagaimana “membumikan” ayat-ayat-Nya yang senantiasa lo rapalkan ketika jam pelajaran Agama. Mengajarkan mengelola uang dalam hal ini uang jajan lebih aplikatif dibanding pelajaran Akuntansi. Mengajarkan bahwa hidup tuh terkadang ga sama dengan apa yang ada di Matematika. Namun, seperti Fisika, masa SMA juga mengajarkan bahwa “gaya” tuh penting. J

Dan seperti Fisika juga, masa SMA mengajarkan bahwa jarak juga harus diperhitungkan.

Rumah gw di Cimanggis. Sekolah gw, SMA 14, terletak di Cawang. Deket? Iya kalo pake peta dengan skala 1:1000.000. Sebenernya jugz ga jauh2 banget sih, tapi masalahnya adalah perjalanan kesana melewati beberapa spot macet. Jadi gw harus berangkat pagi2 buta. Bareng maling pulang kerja. Pilihannya seperti ini:

a. Gw berangkat jam 05.15 maka gw akan sampe sekolah jam 06.00.

b. Gw berangkat jam 05.30 maka gw akan sampe sekolah jam 06.30.

c. Gw berangkat jam 05.45 maka gw akan sampe sekolah jam 07.15 dan ini artinya gw harus lempar tas lewat mushola n masuk dengan membawa kertas sambil pura2 habis dari tukang fotokopi.

d. Berangkat jam 06.00 maka mendingan gw pulang dan nonton gossip aja di TV.

Jam keberangkatan gw akan semakin pagi ketika harus ada PR yang harus dikerjai ato LKS yang harus dikumpul. Akan jauh lebih pagi lagi ketika ada ulangan Fisika, Matematika ato Kimia. Gw harus memastikan bahwa gw dapet tempat duduk di deket temen gw yang pinter.

Kegagalan mendapatkan tempat duduk yang strategis dalam jangka panjang akan berdampak fatal bagi masa depan, dalam jangka pendek akan mengakibatkan kegilaan sesaat karena selama ulangan berlangsung gw akan cengar-cengir doang. Ga bisa ngerjain.

Gw pernah ulangan Matematika. Gurunya bikin soal 4 jenis. Itu artinya, orang yang soalnya sama dengan yang lo miliki adalah orang yang duduk dua kursi di depan lo. Intinya, susah buat nyontek. Kalo pun mo nyontek, lo harus hati2. Gurunya namanya Pak Simarmata. Orang Batak. Matanya awas (eh premis “orang Batak” dan “matanya awas” ga usah dikait-kaitkan yah!!). Harga ulangannya mahal!! Sekali ulangan, selembar soal dihargai 1000. Untuk hak cipta pembuatan soal katanya. Soalnya cuma ada 10 biji. Tapi bikin mencrett. Ulangan pertama sama dia, gw cuma bisa ngerjain 2 biji. Sisa waktu ulangan gw habiskan dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Apakah gerangan itu? Gw n temen sebangku gw, si Fajar, menghabiskan waktu dengan melakukan perlombaan pinter2an kalkulator. Yah bermanfaat sekali bagi perkembangan teknologi bukan? Dengan kegiatan itu, dapat diketahui bahwa kalkulator Texas Instruments gw (yang sekarang udah ilang gara2 dibuang nyokap karena disangka udah rusak) jauh lebih bermutu daripada Casio seri fx 350-nya si Fajar. Ini bukan kegiatan yang sia2. Sungguh! Dengan kegiatan ini kami berharap bahwa ke depannya, Casio akan meningkatkan kualitas produknya demi meningkatkan tingkat penjualan. Oohhh tulus sekali bukan? Casio seharusnya memberi kami penghargaan untuk ini.

Kalo di ulangan Fisika, Kimia dan Matematika gw yang harus berangkat pagi untuk mendapatkan tempat yang strategis, lain ceritanya kalo ulangan Bahasa Inggris. Bahsa Inggris adalah satu diantara sedikit -kalo ga mau diilang satu2nya- keunggulan gw dibandingin anak yang laen. Sebenernya gw jg ga jago2 amat. Cuma modal pede ajah. Dan kayak yang gw bilang diatas, masa SMA member kita kesempatan untuk mempraktekkan teori di pelajaran ke dunia nyata. Dalam ulangan Bahasa Inggris, gw baru menyadari apa yang dimaksud dengan Trickle Down Effect Theory. Yah sungguh indah bahasanya. Padahal intinya adalah gimana jawaban gw, sebagai orang yang diyakini kehebatannya (ketauan banget gw jarang diakui kehebatannya) bisa memberikan manfaat (baca: contekan) bagi anak2 laen.

Mei 5, 2008 Ditulis oleh aksisepuluhjari | Uncategorized | | & Komentar

Kita Merindukannya

Banyak seniman Indonesia yang memiliki bakat luar biasa. Sekarang ini ajah, ga jarang kelompok kesenian anak2 Indonesia dapet penghargaan di tingkat internasional. Sebuah hal yang sampe jamannya nenek2 rajin disko juga gw susah banget dapetinnya. Mereka memiliki bakat yang mengagumkan, tapi, bagi gw ga terlalu banyak seniman yang “kena” banget di hati. Dua diantara seniman Indonesia yang paling gw kagumi adalah Dorce Gamalama dan Benyamin Sueb. Lo boleh bilang Dorce bermasalah karena dia ganti kelamin atau apalah. Tapi gw ngeliatnya, nih orang luar biasa banget. Bangkit dari kehidupannya yang susah, tante (atau Oom yak?) yang satu ini kemudian menjelma menjadi entertainer handal yang serba bisa. You name it. Nyanyi? Bisa. Acting? Jago. Bikin lagu? Dalem itungan menit dia bisa bikin lagu yang bisa dibilang lumayanlah. Joget? Ga usah ditanya deh. Pokoknya dahsyat banget lah!! Gw mikir kalo dia ini bisa dibilang Oprah Winfrey-nya Indonesia, hal ini semakin ditegaskan dengan dibuatnya sebuah acara bertajuk (duuiiileeee tajuk!!) Dorce Show di salah satu stasiun televisi swasta. Emang sih keliatan banget mo bikin kayak Oprah Winfrey Show, tapi perbedaan kultur Indonesia dengan Amerika ditambah perbedaan karakter antara Oprah dan Dorce membuat acara ini berbeda. Tapi itu ga jelek kok. Malah membuat Dorce Show memiliki warna dan segmentasi penggemar sendiri. Hasilnya? Ga buruk. Bersama Kick Andy dan Empat Mata, Dorce Show bertengger di papan atas acara bergenre talkshow di Indonesia. Dan, ga lupa sama masa lalunya, Dorce juga aktif di kegiatan2 sosial. Sulit mendapatkan anak kandung, Dorce punya anak asuh yang bejibun. Pokoknya dia punya concern sosial yang cukup tinggi lah.

Enough about Dorce, now we’ll talk about my hero. Benyamin Sueb. Orang yang satu ini sampe bingung gw mo ngomong apa. Luar biasa serba bisa dah!!! Sampe sekarang gw ga bisa nahan ketawa kalo denger lagu2nya. Siapa sih yang belum pernah denger Ondel-Ondel, Kompor Meleduk ato Hujan Gerimis? Wah mantap dah!!! Filmnya? Bejibun!! Siapa yang ga tau tagline ini: Tarzan ga makan ayam. Ayam teman Tarzan. Iya itu ada di film Tarzan Kota, dimana disana Benyamin maen duet sejatinya, Ida Royani.

Jujur ajah, sebagai orang yang lahir pada pertengahan tahun 80-an, gw pertama kali mengenal Benyamin lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Sinetron ini bisa dibilang kelanjutan seri Si Doel di layar lebar. Sebelumnya udah ada Si Doel Anak Betawi (dibuat tahun 1973, disutradarai oleh Sjumandjaja) dan Si Doel Anak Modern (1976, Sjumandjaja). Di versi sinetronnya Benyamin berperan sebagai sebagai “Babe” dari Rano Karno. Komposisi yang merupakan ulangan dari versi layar lebar Si Doel Anak Betawi.

Gw semakin jauh mengenal Benyamin sejak SMA, waktu itu gw dipinjemin kaset lagu2nya Benyamin. Gw waktu itu dengerinnya bareng sama nyokap n adek gw. Kita bertiga ketawa-tawa ngedengir liriknya yang kocak abis. Sejak itu gw semakin menggemari Benyamin n ga mau ketinggalan kalo ada filmnya. Diantara banyak filmnya (Benyamin membintangi 53 film dalam kurun waktu 1970-1992) yang gw suka adalah Si Doel Anak Modern. Film ini mengkritik kegagapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi modernitas sehingga menganggap yang kebarat-baratan adalah sebuah hal yang modern. Di film ini Benyamin beradu acting dengan Ahmad Albar n Christine Hakim.

Semakin lama gw jadi semakin deket tuh sama istilah-istilah Betawi yang dipopulerkan sama Benyamin. Makdikipe, makdirodok dan sebagainya.

Benyamin yang dilahirkan di Kemayoran (di kemudian hari jalan di daerah ini diberi nama jalan Benyamin Sueb) pada 5 Maret 1939 meninggal pada 5 September 1995 setelah sebelumnya koma selama beberapa hari akibat serangan jantung yang dialaminya seusai bermain olahraga kesenangannya, sepakbola.

Waktu itu gw ga begitu ngeh bahwa dengan meninggalnya Benyamin adalah sebuah kehilangan besar bagi Indonesia. Sampe sekarang belum ada seniman yang bisa nyamain kedahsyatan dia. Beberapa seniman Betawi yang muncul belakangan menurut gw terkesan menjual “cablakan” doang. Bahkan terkadang berlebihan. Benyamin sukses mencitrakan bahwa orang Betawi ga selalu bodoh, males2an dan kerjanya kawin doang. Sungguh sebuah effort luar biasa. Dan Indonesia masih menunggu Benyamin-Benyamin baru untuk mengangkat Betawi dan Indonesia dari keterpurukannya sekarang ini.

“.. Dia Jakarta asli Tetapi dicinta se-Nusantara Dia yang
rendah hati Hidup rukun tanpa perkara Jiwa raga seni semata Taatnya pada agama
Terpanggil-Mu saat jayanya Oh Ben kau telah pergi Pergi takkan kembali Bangga
kagum dan cinta Engkau satu tiada duanya. Benyamin memang enggak ade duenye
…”

(Ben, dinyanyikan oleh Titiek Puspa dalam acara “Mengenang H. Benyamin S”, Istora Senayan, 22 Oktober 1995)

Mei 2, 2008 Ditulis oleh aksisepuluhjari | Uncategorized | , | No Comments Yet